Tag Archives: tas-backpacker

Moni, Impian Penggemar Budaya

Entah bagaimana perasaan anda dan saya manakala bertemu turis asing, yang notabene bukan warga negeri ini, yang menceritakan panjang lebar keberadaan sebuah desa kecil bernama Moni. Faktanya mendapatkan informasi Desa Moni tidak semudah mendapatkan tempat wisata lain di Bali misalnya. Secara kebetulan saja sebagai staff HRD saya mendapatkan identitas salah satu karyawan kami yang berasal dari Ende tepatnya desa Moni. Segera menghubungi dia untuk konfirmasi tempat kelahirannya. Terjadilah obrolan menarik dengan dia sebagai putra daerah. Dari obrolan panjang lebar ada kesan “kecewa” kenapa tidak menulis di forum milis misalnya tentang Moni. Kenapa tidak aktif promosi desa kelahirannya kepada teman-temannya. Mendapat jawaban, saya sering cerita kepada teman-teman. Hanya saja kesannya tidak ada yang tertarik. Teman-teman lebih tertarik tentang Bali, Danau Toba, dan tempat-tempat populer sebagai destinasi wisata. hhhhmmmm….kalau begitu masa iya harus nunggu seorang bule ganteng yang cerita supaya pada tertarik….

Moni…tepatnya Desa Moni, memang tidak pernah terdengar promosi misalnya “Visit to Moni”. Di posting lalu sempat saya sharingkan sebagai sebagai desa terdekat menuju Danau Kelimutu. Desa kecil yang sering dimanfaatkan sebagai tempat transit sebelum memelanjutkan ke Danau Kelimutu. Letaknya sekitar 60 kilometer sebelah timur laut Ende, Flores, Cukup strategis berada di jalur Maumere – Kelimutu. Dengan “status”nya sebagai transit cukup tersedia fasilitas penginapan yang memadai tuk istirahat. Beberapa penginapan yang nyaman. Tidak perlu pake AC. Karena udaranya sudah dingin. Keberadaan warung makan meski sederhana tidak perlu menjejali bagasi dengan berbagai bentuk logistik untuk menjamin agar perut tidak kosong.

Desa Moni yang berudara sejuk sangat cocok untuk penggemar suasana tenang dan sunyi. Kesunyian yang menjamin wisatawan melepas lelah setelah perjalanan panjang sebelum menuju Danau Kelimutu. Lebih dalam lagi desa Moni ibarat mutiara kecil nan cantik yang masih terpendam. Manakala kita bicara kekayaan dan keunikan budaya setempat mungkin kita akan mengakui sebutan Mutiara Kecil yang (masih) terpendam bukan berlebihan. Luangkan waktu setengah hari atau beberapa jam tuk menikmati suatu keunikan kawasan ini.

Desa Adat

Setelah puas kami berlima menikmati Danau Kelimutu, di perjalanan ke Ende kami menyempatkan mengunjungi desa adat. Terdapat kampung bernama Wolojita, Jopu, Nggela, dan masih ada lagi. Jaraknya dengan sewa mobil kurang lebih satu jam dari penginapan kami di Moni. Cukup mudah di jangkau. Jalan ber-aspal…tetapi ada ruas jalan yang masih rusak, berbatu, yang membuat kendaraan harus pelan dan hati-hati. Sayangnya saya tidak melihat kendaraan umum lalu lalang. Mungkin tidak ada. Jadi memang disarankan menyewa kendaraan sejenis kijang atau APV. Untuk sedan, mengingat jalan kurang bagus tidak disarankan. Ada ruas jalan dimana kami berharap tidak berpapasan dengan kendaraan lain karena sempit dan sulit tuk lewati. Pernah saat kendaraan kami harus berhenti karena ada satu mobil di depan kami yang bank kempes. Kerena jalan sempit, sangatlah sulit tuk dilewati, jadinya kami menunggu. Sebagai wujud kebersamaan sesama warga setempat, Ricky spontan turun dari mobil membantu penumpang tersebut mengganti ban mobil yang kempes.

Apa yang bisa dilihat dari desa Adat? Sebenarnya cukup banyak. Kalau kita bertujuan ingin melakukan penelitian, saya kira cukup banyak obyek yang bisa di amati dan di teliti. Sebagai wisatawan yang bisa dinikmati terutama bentuk bangunan rumah adat yang khas. Kedua, kita bisa mengamati pembuatan kain tenun. Walau agak lelah juga, apalagi sudah bangun subuh-subuh tuk ke Danau Kelimutu, mendengar 2 obyek menarik ini kami jadi semangat lagi. Semakin masuk ke pedalaman, menuju desa yang masih jauh dari sentuhan modern, kondisi jalan pun semakin jauh dari sentuhan modern. Tidak ada alasan mengeluh. Mungkin masih dianggap belum menguntungkan secara materi sehingga belum mendapat prioritas perhatian dari pihak setempat. Mungkin….Namun kami puas, meski di dalam mobil harus bergoyang ria tokh tetap bisa di jangkau. Hanya saja kami tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya seandainya perjalanan kami di bawah naungan hujan deras yang membuat jalan berbecek.

Ada rasa kagum di tengah peradaban modern, warga masih mempertahankan bentuk rumah tradisional. Kami menyempatkan mampir di salah satu rumah untuk foto-foto. Sesuatu yang unik dan menarik. Tuan rumah, demikian warga setempat pada umumnya, terbuka bagi kedatangan wisatawan. Tidak larangan untuk foto-foto. Numpang melihat kedalam pun di ijin-kan. Coba kalau di Jakarta, bisa jadi tidak akan di-ijinkan kalau ada yang mau melihat isi rumah kita. Ya khan…? Mereka maklum mungkin kami belum pernah dan merasa heran dengan keberadaan rumah adat.

Bentuk rumah sederhana. Beralaskan kayu. Atapnya tidak menggunakan genteng layaknya rumah-rumah modern, tetapi menggunakan de-daun-an yang di keringkan. Saya tidak melihat adanya beton, semen, sebagai fondasi rumah atau tembok layaknya bangunan modern. Semua menggunakan bahan alam. Ada sebuah pintu masuk yang cukup sempit dan pendek. Untuk masuk, selain melepas alas kaki, harus merunduk. Dapat informasi saat merunduk kepala tidak kena/nyentuh bagian atas pintu masuk. Ada kepercayaan yang berkaitan dengan niat baik para tamu yang akan masuk. Kalau memang niat baik pasti akan mulus dan lancar alias tidak kejedug saat masuknya.

Sempat berpikir tuk saya pribadi yang lumayan gemuk dan agak tinggi pasti perlu perjuangan nich tuk masuknya. Perlu teknik tersendiri supaya bisa lolos masuk. Kepingin mencoba walau ngga yakin akan bisa mulus. Tapi…ngga ada salahnya di coba. Dengan sedikit perjuangan pelan-pelan coba masuk, kepala merunduk serendah-rendah-nya, walahpun terganjal perut yang agak membuncit…perlahan disaksikan senyum lucu oleh Ricky akhirnya…..bisa….tanpa nyenggol atas pintu masuk….wuaaa…….lega….Demikian juga saat keluarnya…sudah ancang-ancang menggunakan teknik yang sama saat masuk….Akhirnya….lega…bisa lolos keluar tanpa kejedug….hahahaha….

Ada rumah yang di pekarangan / latardepannya kuburan. Kami mendapat penjelasan sudah menjadi kebiasan warga setempat menguburkan keluarga yang meninggal di pekarangan rumahnya. Itu lazim. Di beberapa tempat yang masih memegang kepercayaan tertentu, menguburkan keluarga yang meninggal di pekarangan diyakini arwahnya akan selalu bersamanya. Fisik dengan yang sudah meninggal memang beda. Tetapi tetap bersama-sama. Itu keyakinannya. Tetapi Kami sempat surprise manakala di tunjukan satu bangunan yang ber-isi makam leluhur, dimana dimakamkan tidak di tanah tetapi di atas….Jadi yang meninggal di kuburkan atau di letakan di kayu yang digantung di atas tapi masih dalam bangunan. Surprise ‘n spechless….Baru kali ini saya melihat pemandangan yang unik. Apa tidak busuk dan bau…? di jawab, tidak…ya tentu bisa begitu dengan upacara-upacara tertentu.

Kami beruntung di perkelankan oleh satu pemuka adat bersama istrinya. Pemuka adat dan istrinya memang sudah tidak tinggal di rumah adat tersebut. Hanya sesekali saja kalau ada upacara kembali tinggal di rumah tersebut. Namanya Ibu Maria, istri pemuka adat menerima kami dengan ramah. Usia hampir sekitar 50 tahun menurut pengakuannya. Beliau cerita sudah cukup sering menerima wisatawan baik asing maupun domestik.

Dengan antusias dan semangat beliau menjelaskan panjang lebar keberadaan rumah adat, termasuk yang di huni-nya. Sama seperti rumah-rumah pada umumnya, secara umum di huni seorang kepala keluarga berserta istri dan anak-anak-nya. Ada ruang untuk anak-nya tidur, tuk kumpul keluarga, tuk makan. Ada juga dapur yang masih sederhana. Kami di-ijin-kan tuk motret sebebas-bebasnya isi rumah tersebut. Semua pilar-pilar rumah yang kami masuk-i terbuat dari kayu. Tidak ada listrik. Penerangan menggunakan api/lilin. Hhhmmmm….terbayang juga gelapnya kalau malam. Karena atap rumah dari de-daun-an pasti suatu saat akan tiba waktunya tuk di ganti. Betul…tuk mengganti atap rumah dengan de-daun-an yang masih fresh perlu dilakukan upacara.

Bu Maria menjelaskan perihal pembuatan kain tenun ikat yang sangat khas. Kawasan desa ini boleh dibilang sebagai sentra tenun ikat yang dilakukan secara tradisional. Betul…kami melihat sendiri. Saat mobil kami melewati jalan desa banyak tenun ikat yang digantung tepatnya di pajang di depan rumah. Itu artinya di jual kepada pengunjung. Pembuatan menggunakan bahan warna yang alami, tidak dicampur dengan obat-obat kimia. Hasil dan kualitasnya jangan ditanya. Desa ini terkenal sebagai penghasil tenun ikat tradisional yang berkualitas. Kami jadi teringat penuturan pengelola Museum Tekstil di kota Ende perihal pembuatan tenun ikat. Tidak berbeda dengan yang dijelaskan ibu Maria. Inilah salah satu daya tarik kenapa banyak di datangi wisatawan.

Sekitar hampir sejam lamanya kami mendengar penjelasan bu Maria. Banyak filosofis dan makna luhur dari bangunan tersebut. Menarik sekali. Apalagi kalau kita ingin perdalam lagi, obrolan akan lebih seru dan lebih lama. Kepingin lebih lama lagi sayangnya waktu sudah memberikan warning bahwa kalmi tidak bisa berlama-lama. Kami harus segera ke Ende. Dengan berat hati kami harus menutup obrolan menarik. Sebelum kami berpisah tertarik dengan kain tenun yang ditawarkan. Harga yang ditawarkan ber-variasi. Ada syal yang satu lapis seharga 50 ribu. Yang dua lapis dan agak panjang seharga 2 kali lipatnya. Kain tenun, yang tentunya asli ada yang seharga 250 ribu sampai 500 ribu.

Perjumpaan singkat yang berkesan dengan ibu Maria. Spontanitas menerima kami adalah cermin keterbukaan warga setempat kepada siapa saja. Oleh-oleh yang kami bawa, berupa tenun ikat, menjadi bukti kami menyimpan aset bernilai dari desa Moni. Kami berpisah dengan harapan dapat bertemu kembali dengan ibu Maria, dengan warga setempat. Tidak lupa suatu harapan agar arus modern tidak mengikis kekayaan budaya khas setempat yang masih tradisional.

Adolf

bersambung : Jalan Asyik Ende – Labuhan Bajo

————————————

Kunjungi website IBP: http://www.indobackpacker.com

Silakan membuka arsip milis http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/ untuk melihat bahasan dan informasi yang anda butuhkan.

SPAMMING atau forwarding tidak diperkenankan. Silakan beriklan sesuai tema backpacking di hari JUMAT.

Sebelum membalas email, mohon potong bagian yang tidak perlu dan kutip bagian yang perlu saja.

Cara mengatur keanggotaan di milis ini:

Mengirim email ke grup: indobackpacker@yahoogroups.com (moderasi penuh) Mengirim email kepada para Moderator/Owner: indobackpacker-owner@yahoogroups.com Satu email perhari: indobackpacker-digest@yahoogroups.com No-email/web only: indobackpacker-nomail@yahoogroups.com Berhenti dari milist kirim email kosong: indobackpacker-unsubscribe@yahoogroups.com Bergabung kembali ke milist kirim email kosong: indobackpacker-subscribe@yahoogroups.com

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/

<*> Your email settings: Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/join (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email: indobackpacker-digest@yahoogroups.com indobackpacker-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to: indobackpacker-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

Nyari Tas backpacker sekitar 30L

Agan2, nanya lagi donk, beli tas backpacker sekitar 30L (bisa 25 atau 28) untuk daerah jakarta dimana ya ? aku udah survery ke Eiger sih. ada juga merek Deuter Futura 28L via kaskus. Tau yg bisa COD dan harga kompetitif ? minta link atau Contact nya kalo ada. Atau ada merek lain yg rekomendasi ? Ada yg pengalaman liat d AceHardware atau Carrefour (yg ini sih standard china ya).

Thanks in advance. BR Taufik Lubis

[Non-text portions of this message have been removed]

————————————

Kunjungi website IBP: http://www.indobackpacker.com

Silakan membuka arsip milis http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/ untuk melihat bahasan dan informasi yang anda butuhkan.

SPAMMING atau forwarding tidak diperkenankan. Silakan beriklan sesuai tema backpacking di hari JUMAT.

Sebelum membalas email, mohon potong bagian yang tidak perlu dan kutip bagian yang perlu saja.

Cara mengatur keanggotaan di milis ini:

Mengirim email ke grup: indobackpacker@yahoogroups.com (moderasi penuh) Mengirim email kepada para Moderator/Owner: indobackpacker-owner@yahoogroups.com Satu email perhari: indobackpacker-digest@yahoogroups.com No-email/web only: indobackpacker-nomail@yahoogroups.com Berhenti dari milist kirim email kosong: indobackpacker-unsubscribe@yahoogroups.com Bergabung kembali ke milist kirim email kosong: indobackpacker-subscribe@yahoogroups.com

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/

<*> Your email settings: Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/indobackpacker/join (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email: indobackpacker-digest@yahoogroups.com indobackpacker-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to: indobackpacker-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

situs islam dan komunitas islam di thailand

assalamualaikum

salam hangat, salam berkenala ^^

sahabat sahabat IBP… bagaimana kabarnya ? semoga selalu kaya akan inspirasi ^^ saya ingin bertanya tentang situs islam dan komunitas islam di thailand.. sejauh ini saya sudah mendapatkan info tentang,

Bangkok : Islamic Center Ramkamhaeng Nahofi : Masjid Shalahudin Al Ayubi Pattani : Masjid Kerisek Narathaiwat : Masjid Kulusei

terutama untuk komunitas di hatyai dan pattani.. apakah ada info info tempat lain yang bisa kami kunjungi.. rencananya kami akan backpacking ke sana… terima kasih banyak.. mohon informasi dan inspirasinya..

salam hangat, yusuf

– *Ridwansyah Yusuf Achmad,Mr* Researcher Assistant Regional and Rural Planning Research Group School of Architecture, Planning and Policy Development Institut Teknologi Bandung Jl.Ganesha 10 Bandung 40132 Jawa barat Indonesia mobile +62 812 8420 120 website : http://ridwansyahyusufachmad.wordpress.com

[Non-text portions of this message have been removed]

Visa Iran untuk WNI

Halo teman2,

Ada yg pernah ngalamin ngga, kl ke Iran backpacking utk pemegang paspor RI butuh visa ga sih?

Gw liat di Wikipedia, katanya 15 hari ga perlu. Trus cek link nya ke Kedubes Iran di Jkt, katanya butuh alias musti apply di Kedubes sebelum traveling. *Bingung mode on*

Ada yg pernah ngalamin ngga? Tolong share.

Makasih, Alex.

[indobackpacker] Palu (via postie)

Bookmark this category
Betul.. kalo ke Palu jangan lupa ke Tanjung Karang di Donggala, sekitar 30an km dari Palu. Saya 2 kali ke Palu dan selalu disempetin buat mampir ke Tanjung Karang. pantainya keren. Dan jangan lupa snorkelling.. keren banget. karang2nya masih sangat bagus dan banyak. Ikannya juga sangat banyak.

ini foto2 kunjungan saya sebelumnya: – Underwater: http://ifanm.multiply.com/photos/album/126/Snorkelling_di_Donggala_harus – Pantai: http://ifanm.multiply.com/photos/album/67/Pantai_Tanjung_Karang_-_Donggala_Sulawesi_Tengah Ifan http://ifanm.multiply.com

________________________________ Dari: Yeni Rahmawati Kepada: Adhari Suryaputra Cc: indopackpacker komunitas Terkirim: Sen, 12 April, 2010 11:27:11 Judul: Re: [indobackpacker] Palu

Mas/Bpk Ari.. memang benar, di Palu kebanyakan objek wisatanya Air/Pantai kalo waktuny sempit, ke pantai tanjung karang. view pantainya kalo menurut saya tetep nomor satu.. ;)

kalo penerbangan ke Palu, selain Batavia Air, adanya Lion sama Sriwijaya.. kalo Lion transitnya di Makassar dulu. kalo Sriwijaya hanya ada 1 flight jam 6 pagi dan transit di balikpapan sekitar 3 jam. Jadi yang paling mending ya Batavia karna penerbangannya langsung, ga pake transit. semoga membantu…

salam…

2010/4/12 Adhari Suryaputra

> > > Kawan2, > > Kalau jadi, akhir bulan ini saya ada perjalanan dinas ke Palu. Ibarat > sambil > berenang minum air, tertarik juga utk explore potensi wisata di sana. > Apalagi ini kali pertama saya ke Palu. > > Mohon informasi potensi wisata apa saja di Palu. Saya sudah coba riset > kecil2an dan kayaknya mereka lebih banyak menawarkan wisata pantai/air. Apa > ada situs2 sejarah di sana yg menarik utk dikunjungi? > > Saya agak kaget juga tidak ada flight garuda ke sana ya… Kalau > berdasarkan > pengalaman teman2, selain batavia air, pilihan saya apa saja ya? > > Terima kasih sebelumnya? > > Salam, > Ari > > [Non-text portions of this message have been removed] > > >

[Non-text portions of this message have been removed]

Lebih aman saat online. Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih cepat yang dioptimalkan untuk Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis. Dapatkan IE8 di sini! http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer/

[Non-text portions of this message have been removed]