Tag Archives: wisata-alam-nirwana-sunrise

Menuju Borobudur Nirwana Sunrise ( bagian 2 – selesai )

Dinihari jam 4 subuh kami sudah siap beranjak menuju Punthuk Setumbu. Kalau kemarin siang hanya survei, acara benarnya sekarang. Seperti rekan-rekan fotografer lainnya saking semangatnya rasa kantuk sudah tidak terasa. Ngga mau buang waktu tuk sarapan atau ngopi dulu. Ntar saja di lokasi. Khan tiket masuk sudah include kopi ‘n teh. Roti dan cemilan tuk ganjel perut sudah siap.Rekan ku juga sudah siap tanpa harus membangunkan lebih dulu. Segera meluncur ke “TKP”. Karena sudah survei tidak sulit menuju lokasi, meski masih gelap.

Di loket masuk sudah ada warga setempat. Setiap pengunjung di kenakan “tiket” per orang 15.000. Walaupun tidak diberikan karcis namun kehadiran setiap pengunjung termasuk kami segera di catat dalam buku tamu. Uang yang diterima menjadi pemasukan desa setempat. Pagi itu sudah ada 5 orang termasuk kami ber-3, aku, rekan ku, dan Rahmat driver kami. Karena sudah menyiapkan senter, kami tidak memanfaatkan fasilitas senter yang sudah di siapkan sebagai fasilitas tamu.

Di temani Pak Walidi kami menyusuri jalan setapak melewati ladang. Tidak sulit mencapai puncak yang menjadi spot hunting. Rasanya beruntung tiba disaat musim kering. Coba kalau musim hujan, pasti becek. Meski jalan setapak ternyata sudah di kelola dengan baik. Terbukti sepanjang jalan sudah di buat penerangan yang berfungsi baik alias tidak byar pet. Jadi sebenarnya tanpa menggunakan senter pun sudah cukup.

Contoh lain bahwa jalan setapak sudah di kelola yaitu dibuat tangga dan pegangan saat jalan menanjak. Tamu tidak perlu takut terpleset saat hujan. Selain itu….nah ini yang menarik di atas sudah tersedia toilet. Kondisinya bersih, ada air. Pak Walidi bersama warga setempat menyadari betapa pentingnya fasilitas ini. Umumnya yang datang pagi-pagi. Tidak jarang tamu dari hotel supaya tidak ketinggalan momen tidak sempat menuruti “panggilan alam”.

Sambil jalan santai Pak Walidi bertutur umumnya yang kesini tamu yang mengincar sunrise. Dulu yang datang kebanyakan para fotografer. Sekarang sudah banyak turis asing. Rata-rata hari biasa yang datang 30 orang. Setiap hari pasti ada tamu. Kalau musim liburan akan lebih banyak lagi. Biasanya kalau ada acara keagamaan seperti Waisak subuh-subuh disini bakalan ramai. Pasti fotografer setelah hunting Waisak di Borobudur, sahut ku. “tidak juga pak….yang bukan fotografer juga banyak”, katanya. Paling ramai yang pernah datang kesini sekitar berapa orang? Tanyaku. Sekitar 60 orang lebih, jawabnya. Orang lokal semua…?, lanjut tanyaku. Di jawab, campur. Tapi memang kebanyakan turis asing.

Wah sangat berjasa juga ya si Korea. Gara-gara fotonya menang lomba lalu tersebar jadilah pada kepingin kesini. Sambil jalan aku coba sedikit berhitung. Kalau setiap hari minimal 30 tamu datang, berarti pemasukan kas desa minimal 450 ribu. Sebulan kali 30 hari bisa dapat income sekitar 13.500.000. Itu saat normal atau minimal ya. Kalau lagi ramai bisa lebih. Hhhhhmmmm…..termasuk desa kaya. Asal dananya di kelola bener pasti kesejahteraan warga disini bisa lebih baik. Income segitu bisa disisihkan untuk perawatan jalan dan menambah fasilitas lain. Dengan catatan pengelolannya tidak tergoda setan untuk ngembat ya alias di korupsi. Semoga saja tidak…. “tidak kog pak. Hasil pendapatan di kasih transparan. Termasuk pengelolaannya untuk apa, oleh pengurus di informasikan. Kalau ada yang nakal pasti ketahuan”, tutur Pak Walidi.

Jalan santai hanya sekitar 15 menit kami tiba di lokasi. Ngga perlo ngos-ngos-an.Masih gelap tapi sudah penerangan. Areal seluas kurang lebih 100 meter persegi posisinya di pinggir jurang. Di tengah ada semacam gundukan tanah yang di berikan pagar pembatas berbentuk segi empat. Lho ini apa…? tanyak ku. Mendapat penjelasan kalau tempat ini ada sejarahnya. Dulu jaman perang Diponegoro menjadi salah satu basis pasukan. Nah di tempat yang di pagar-i itu di percaya tempat sang pemimpin duduk di tanah untuk menyusun strategi. Karenanya di namakan Punthuk Setumbu. Kalau sekarang di kasih nama lain (Borobudur Nirwana Sunrise), yang kasih nama para guide turis asing.

Berada di ketinggian sekitar 500 meter dari permukaan laut. Karena di pinggir jurang / lembah untuk keamanan di berikan pagar pembatas. Juga sudah di bangun 2 pendopo untuk tamu bersantai. Dulu waktu masih belum terkenal belum ada pagar pembatas dan pendopo. Bisa bikin begitu ya dari dana tiket masuk tadi. Dari lokasi ini, meski masih samar-samar, terlihat dari kejauhan Candi Borobudur. Pak Walidi menunjukan 2 lampu kecil di kejauhan. Itu Borobudur. Wah tuk memastikan perlu teropong.

Di lokasi sudah 2 pemuda yang ngakunya dari Yogya. Sambil menunggu terang kami berkenalan dan ngobrol. Datang untuk tujuan hunting. Tripodnya sudah terpasang. Boncengan naik motor langsung dari Yogya. Berangkat jam 1 subuh. Ck…ck…meski jarak Yogya – Magelang ngga jauh aku kagum dengan niat seriusnya.

Sekitar pukul setengah 6 pagi mulai berdatangan tamu-tamu lain. wah ternyata yang datang banyak bule-nya. Ada juga yang jika dilihat paras mukanya dari Taiwan atau jepang. Wah lagi-lagi yang kesekian kali merasa sebagai warga asing di negeri sendiri…hahaha…Pertanyaannya, kog mereka tahu dan bisa sampai disini ya? Jawabannya tidak sulit. Umumnya karyawan hotel, penginapan, warga sekitar Borobudur sudah tahu. Aku teringat kemarin sore di Candi Borobodur sempat di tanya petugas disana, apakah sudah ke Punthuk Setumbu.

Semakin populer karena tiket masuk sangat murah. Bandingkan jika di Candi Borobudur untuk menikmati sunrise tamu di kenakan biaya 350 ribu. Itu untuk lokal. Turis asing lebih mahal lagi sekitar 500 ribu. Biaya segitu sudah termasuk sarapan pagi, tiket masuk Candi Borobudur. Perbandingannya timpang banget….ya wajar banyak pilih disini.

Aku menghitung sudah 30 orang lebih. Itu hari biasa lho. Pengelola setempat paham. Untuk kenyamanan jika memang ramai jumlah pengunjung terpaksa di batasi. Tidak boleh sampai 100 orang. Syukurlah ngga pernah terjadi. Informasinya, maksimal 60 orang saja.

Nirwana

Langit mulai terang meski sang mentari belum menampak wajahnya. Yang bertujuan motret sudah meng-”kapling” sejengkal tanah dengan meletakan tripodnya. Menyadari bakalan rebutan tempat sedari awal aku sudah ikutan taruh tripod. Ngga kebayang kalau ada rombongan fotografer hunting disini pasti bakalan rebutan spot.

Pelan-pelan siluet Candi Borobudur di kejauhan mulai terlhat. Jarak dari kami berdiri jika di tarik garis lurus sekitar 4 kilometer. Yang menarik…karena kami berada di bukit terlihat kabut tipis sebagai latar depan Candi Borobudur. Perlahan-lahan kabut terangat. Juga terhampar beberapa bukit yang lebih rendah. Kabut itu terangkat dari celah-celah bukit. Bayangkan sebagai sebuah permadani alam. Kursi singgasana-nya adalah Candi Borobudur. Landscape yang sangat indah. Tidak hanya indah tetapi juga artistik. Ku akui memang TOP banget view-nya.

Yeaaaaa….inilah yang bikin penasaran terutama para fotografer. Tapi…candi Borobudurnya terlihat kecil. Ngga apa-apa…tapi lihat dong hamparan “permadani” kabut yang mulai terangkat. Candi Borobudur yang “mungil” di kerubuti “asap” berupa kabut alam. Lihat juga gradasi landscape-nya dengan kombinasi kabut sebgai latar depan. Tidak heran juri foto akan terkesima melihat artistik karya foto seperti ini. Beberapa majalah traveling pernah ku lihat menampilkan foto yang rupanya di ambil dari spot ini. Ngga heran jika tempat ini di namakan “Borobudur Nirwana Sunrise”.

Pak Walidi yang sudah sering mendampingi para fotografer menambahkan. Sayang pagi ini masih berawan. Kalau cuaca cerah bisa terlihat hamparan gunung Merapi dan Merbabu. Lalu saat matahari mulai muncul ada bias-bias-nya. Istilah fotografi-nya Ray of Light (RoL). Lebih cakep lagi, tuturnya. Ya, sudah bisa bayangkan. Namun meskipun kali ini cuaca kurang cerah namun aku sudah puas bisa mendapatkan momen kabut dan gradasi landscape. Informasinya kalau malamnya hujan pagi-pagi cerah dan bisa lihat 2 gunung itu. Ooo begitu…oke kalau begitu aku kesini lagi saat musim hujan ya. Ngga apa-apa becek dikit. Yang penting bisa lihat 2 gunung sebagai pelengkap obyek utama tadi.

Ngga perlu berlama-lama disini. Sekitar jam 6 pagi setelah terang bule-bule mulai beranjak meninggalkan tempat. Aku pribadi masih bertahan sampai sekitar jam 7. Suguhan teh atau kopi hangat, salah satu fasilitas, menutup hunting kami di Punthuk Setumbu. Tujuan utama di Magelang tercapai. Puas meski masih penasaran belum melihat pemandangan Merbabu dan Merapi serta Ray of Light. Butuh keburuntungan. Oke…next time aku datang lagi untuk mencoba keberuntungan. Sekarang lanjut ke spot-spot menarik lain. Puncak Suroloyo, Watu Kendil, plesiran desa menjadi tujuan berikutnya.

Catatan penutup :

1. Lokasi berada di Desa Karangrejo, Borobudur, Magelang, Letak lokasi terpencil. Bagi yang membawa GPS bisa mencatat koordinat lokasi : S : 7 , 36′, 25.5″ ; E : 110 , 10′ 39″. Jika kesasar dan tidak sempat bertanya tinggal mengikuti koordinat ini akan ketemu.

2. Menuju lokasi bisa menggunakan kendaraan umum berupa angkutan pedesaan dari Terminal Borobodur. Tinggal mencari yang melewati Desa Karangrejo. Tarif angkutan 3000 per orang. Hanya saja tidak setiap waktu ada. Biasanya angkutan baru jalan kalau sudah penuh.

3. Disarankan menuju lokasi menggunakan ojek. Biaya 50 ribu jemput antar dari hotel di sekitar Borobudur. Kalau start dari kota Magelang sekitar 75 ribu. Biaya itu belum termasuk tiket masuk

4. Meski tempatnya terbuka 24 jam, waktu ideal favorit pengunjung jam 5 – 7 pagi.

5. Biasanya yang kesini memiliki minat khusus yaitu hunting foto. Bagi yang kurang suka foto sekedar menambah pengalaman tidak ada salahnya ke sini.

6. Tiket masuk 15.000 per orang. Mendapat fasilitas senter, kopi dan teh hangat, menggunakan toilet.

7. Disarankan membawa jaket hangat serta roti atau sarapan pagi.

8. Obyek lain setelah dari sini bisa ke Candi Borobudur, mengunjungi candi-candi lain, wisata pedesaan, atau melanjutkan perjalanan.

R Adolf Izaak